Bali, khususnya Kota Denpasar, adalah pusat kebudayaan dan spiritualitas yang sangat kental dengan penggunaan sarana persembahan atau sajen dalam aktivitas sehari-hari. Namun, seiring dengan modernisasi, terjadi pergeseran penggunaan bahan pembungkus sajen yang tadinya alami menjadi menggunakan bahan plastik sekali pakai. Hal ini menciptakan tantangan lingkungan berupa timbulan sampah plastik yang sangat tinggi di sekitar area pura dan tempat suci lainnya. Menanggapi fenomena ini, HAKLI Denpasar mengambil langkah inovatif dengan menginisiasi gerakan sajen ramah lingkungan. Melalui sosialisasi bahan alami, organisasi ini berupaya mengajak masyarakat untuk kembali ke tradisi luhur sebagai pengganti plastik yang lebih harmonis dengan alam.
Gerakan sajen ramah lingkungan ini didasari oleh konsep kearifan lokal Bali, yaitu Tri Hita Karana, yang menekankan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Penggunaan plastik dalam ritual keagamaan dianggap tidak selaras dengan upaya menjaga kesucian tanah Bali. HAKLI Denpasar secara intensif melakukan sosialisasi bahan alami seperti penggunaan daun pisang, daun janur, hingga anyaman bambu yang dapat terurai secara alami. Dengan menyediakan pengganti plastik dalam pembuatan banten atau canang, masyarakat dapat menjalankan kewajiban spiritualnya tanpa harus menyisakan beban limbah yang merusak ekosistem tanah dan air di Pulau Dewata.
Dalam setiap sesi sosialisasi bahan alami, para ahli kesehatan lingkungan dari HAKLI Denpasar memaparkan bahaya mikroplastik yang dihasilkan dari sampah sajen yang tidak terkelola dengan baik. Sering kali, sajen yang dibiarkan setelah ritual akan menjadi sampah terbuka. Jika sajen tersebut merupakan sajen ramah lingkungan, maka ia akan hancur dan menjadi pupuk bagi tanah. Namun, jika mengandung unsur plastik, ia akan tertimbun selama ratusan tahun. Oleh karena itu, penyediaan pengganti plastik bukan hanya soal estetika tradisi, melainkan sebuah tindakan medis preventif untuk mencegah pencemaran lingkungan yang dapat berdampak buruk pada kesehatan masyarakat Denpasar secara umum.
Implementasi program ini dilakukan dengan mendekati para tokoh agama, pemangku, dan ibu-ibu PKK sebagai pembuat utama sarana upakara. HAKLI Denpasar mengajarkan bahwa sajen ramah lingkungan memiliki nilai filosofis yang lebih tinggi karena berasal langsung dari alam dan kembali ke alam.
