Bali dikenal sebagai pulau dengan keindahan alam dan spiritualitas yang kental, namun pertumbuhan pembangunan yang masif di wilayah perkotaan seperti Denpasar membawa konsekuensi lingkungan yang sering terlupakan, yaitu polusi cahaya. Fenomena ini terjadi akibat penggunaan lampu luar ruangan yang berlebihan, salah arah, atau tidak efisien, sehingga mengaburkan langit malam dan mengubah ritme alami lingkungan. Polusi Cahaya di Bali bukan sekadar masalah estetika bagi para astronom, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan kelangsungan hidup spesies tertentu di pulau dewata.
Dalam tinjauan kesehatan lingkungan, paparan cahaya buatan yang berlebihan di malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian manusia. Ritme ini adalah jam biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun serta produksi hormon melatonin. Masyarakat di Bali, khususnya di kawasan wisata yang aktif 24 jam, berisiko mengalami gangguan tidur kronis yang berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes, dan gangguan kecemasan. Hal inilah yang menjadi perhatian utama bagi praktisi kesehatan lingkungan dalam melihat dampak modernisasi terhadap kesejahteraan fisik warga.
Dampak terhadap ekosistem juga tidak kalah mengkhawatirkan. Banyak satwa liar di Bali yang bergantung pada kegelapan untuk berburu, bermigrasi, dan bereproduksi. Penyu, misalnya, sering kali salah arah saat menuju laut karena terganggu oleh pancaran cahaya terang dari lampu-lampu hotel di sepanjang garis pantai. Selain itu, burung-burung yang bermigrasi bisa kehilangan arah dan menabrak bangunan akibat silau lampu gedung. Gangguan pada Ekosistem ini jika dibiarkan akan memutus rantai makanan alami dan mengurangi keanekaragaman hayati yang selama ini menjadi daya tarik utama Bali.
Menanggapi fenomena ini, HAKLI Denpasar memberikan berbagai rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha. Salah satu saran utamanya adalah penerapan regulasi mengenai desain pencahayaan luar ruangan yang ramah lingkungan. Penggunaan lampu dengan pelindung (shielding) yang mengarahkan cahaya hanya ke bawah dapat mengurangi kebocoran cahaya ke atmosfer. Selain itu, pemilihan suhu warna lampu yang lebih hangat (kuning) lebih disarankan dibandingkan lampu putih atau biru yang memiliki spektrum cahaya tinggi yang mengganggu mata dan siklus hidup serangga malam.
