Di tengah tantangan krisis air bersih dan peningkatan volume sampah akibat aktivitas perkotaan yang padat, HAKLI Denpasar muncul dengan sebuah solusi kreatif yang berbasis teknologi tepat guna. Inovasi yang diusung adalah sistem pengolahan limbah cair domestik yang difungsikan kembali untuk kebutuhan sekunder, yakni sebagai air siram taman. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap keterbatasan lahan dan kebutuhan akan ruang terbuka hijau yang tetap segar tanpa harus menguras cadangan air tanah yang semakin menipis. Denpasar, sebagai pusat pariwisata dan pemerintahan di Bali, menjadi lokasi uji coba yang ideal untuk menerapkan konsep sirkularitas air ini.
Proses transformasi limbah menjadi sumber daya ini melibatkan beberapa tahapan filtrasi dan purifikasi biologis. HAKLI memastikan bahwa air yang dihasilkan telah melalui pengujian laboratorium yang ketat untuk menjamin tingkat higienitasnya. Meskipun peruntukannya bukan untuk dikonsumsi, air hasil olahan ini harus bebas dari bakteri patogen berbahaya seperti E. coli agar tidak menimbulkan risiko kesehatan saat bersentuhan dengan manusia atau hewan peliharaan di area taman publik. Inovasi pengolahan limbah cair ini membuktikan bahwa dengan pendekatan sains lingkungan yang tepat, limbah yang selama ini dianggap sebagai beban justru dapat memberikan manfaat ekologis.
Penggunaan air olahan untuk menyiram taman juga memberikan dampak ekonomi yang positif bagi pemerintah daerah dan pengelola fasilitas umum. Biaya operasional untuk pemeliharaan taman dapat ditekan secara signifikan karena tidak lagi bergantung pada air perpipaan (PDAM) atau sumur bor. Selain itu, nutrisi organik yang masih terkandung dalam kadar rendah di air olahan tersebut seringkali justru membantu menyuburkan tanaman tanpa memerlukan banyak pupuk kimia tambahan. HAKLI Denpasar terus melakukan sosialisasi kepada pengelola hotel, mal, dan perkantoran agar mereka mulai mengadopsi sistem pengolahan mandiri di lingkungan masing-masing.
Dukungan masyarakat sangat diperlukan dalam menyukseskan program ini, terutama dalam hal pemilahan limbah di sumbernya. HAKLI mengedukasi warga agar tidak membuang zat kimia berbahaya ke dalam saluran pembuangan domestik, karena hal tersebut dapat mematikan mikroorganisme pengurai yang ada pada sistem pengolahan. Melalui edukasi yang berkelanjutan, diharapkan muncul budaya baru dalam memandang air sebagai sumber daya yang harus diputar kembali kegunaannya. Proyek pengolahan limbah cair di Denpasar ini bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan yang lebih ramah terhadap ekosistem air.
