Pertumbuhan kota Denpasar sebagai pusat pariwisata dan perekonomian Bali telah membawa konsekuensi yang tak terhindarkan: peningkatan drastis jumlah kendaraan pribadi dan kemacetan yang akut. Lebih dari sekadar masalah waktu tempuh, kemacetan ini adalah sumber utama dari polusi udara dan kebisingan yang mengancam kesehatan masyarakat. Menyikapi situasi ini, HAKLI (Asosiasi Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) Denpasar mengambil peran proaktif, menyoroti urgensi reformasi transportasi kota dan secara tegas mendorong pemerintah untuk menyediakan transportasi massal hijau.
Isu transportasi di Denpasar saat ini menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan lingkungan. Emisi gas buang dari jutaan kendaraan, khususnya sepeda motor dan mobil tua, melepaskan Partikulat Matter (PM) 2.5 dan Nitrogen Dioksida (NO2) ke udara. Paparan jangka panjang terhadap polutan ini berhubungan erat dengan peningkatan kasus penyakit pernapasan, seperti asma dan bronkitis, serta gangguan kardiovaskular pada warga kota. HAKLI Denpasar menekankan bahwa upaya penyehatan lingkungan tidak akan maksimal tanpa mengatasi akar masalah dari sektor transportasi ini.
Solusi yang didorong oleh HAKLI adalah investasi masif dan terencana pada transportasi massal hijau. Yang dimaksud dengan “hijau” adalah sistem transportasi yang memiliki jejak karbon minimal, seperti bus listrik, trem, atau sistem angkutan cepat berbahan bakar non-fosil. Penerapan sistem ini tidak hanya bertujuan mengurangi polusi udara secara langsung dari knalpot kendaraan, tetapi juga secara tidak langsung dengan mendorong perpindahan pengguna dari kendaraan pribadi ke moda publik. Setiap bus listrik yang beroperasi penuh dapat menggantikan puluhan mobil pribadi, mengurangi emisi dan kemacetan secara signifikan.
Mendorong pemerintah untuk menyediakan transportasi massal hijau membutuhkan lebih dari sekadar wacana; ini memerlukan kajian kelayakan lingkungan dan kesehatan yang komprehensif. HAKLI Denpasar dapat berperan sebagai mitra kritis pemerintah dalam merumuskan kebijakan ini, memastikan bahwa perencanaan rute dan infrastruktur tidak hanya efisien secara operasional, tetapi juga meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Misalnya, pembangunan jalur khusus transportasi harus memperhatikan konservasi ruang terbuka hijau dan tidak memperparah masalah tata ruang.
Aspek kesehatan masyarakat adalah fokus utama dari usulan HAKLI. Transportasi massal hijau juga berdampak pada peningkatan kesehatan mental dan fisik warga. Dengan berkurangnya kemacetan, tingkat stres harian komuter akan menurun. Selain itu, integrasi antara transportasi publik dengan infrastruktur pendukung seperti jalur sepeda yang aman dan trotoar yang nyaman dapat mendorong masyarakat untuk berjalan kaki atau bersepeda, yang merupakan bentuk aktivitas fisik harian yang sangat dianjurkan. Ini adalah konsep ‘Transit-Oriented Development’ yang terintegrasi dengan kesehatan lingkungan.
