Bali sebagai destinasi wisata dunia terus berupaya mengatasi tantangan keterbatasan sumber daya air di tengah pertumbuhan pembangunan yang masif. HAKLI wilayah Denpasar baru saja memperkenalkan sebuah sistem inovatif dengan menggunakan Teknologi Daur Ulang pengolahan air sisa yang diadopsi langsung dari Singapura. Sebagaimana diketahui, Singapura merupakan pionir dunia dalam teknologi “NEWater” yang mampu mengubah air kotor menjadi air yang layak digunakan kembali untuk berbagai kebutuhan non-konsumsi. Langkah ini diambil oleh para ahli kesehatan lingkungan di Bali sebagai solusi konkret untuk menekan penggunaan air tanah yang berlebihan akibat aktivitas komersial dan rumah tangga yang terus meningkat di ibu kota provinsi tersebut.
Implementasi Teknologi Daur Ulang ini melibatkan proses filtrasi membran tingkat tinggi dan penggunaan sinar ultraviolet untuk sterilisasi mikroba secara menyeluruh. Di HAKLI Denpasar, sistem ini diujicobakan pada beberapa area percontohan seperti pusat perbelanjaan dan kawasan perkantoran terpadu. Proses daur ulang yang canggih memungkinkan air bekas pakai dari wastafel maupun saluran pembuangan lainnya diproses kembali hingga mencapai tingkat kejernihan dan keamanan yang sangat tinggi. Air hasil olahan ini kemudian digunakan kembali untuk menyiram taman kota, mencuci kendaraan, hingga sistem pendingin gedung, sehingga menghemat cadangan air bersih utama secara signifikan bagi masyarakat luas.
Penggunaan sistem yang berkiblat pada negara Singapura ini juga didukung oleh pemantauan digital yang sangat ketat terhadap setiap parameter kualitas air yang dihasilkan. Para ahli di HAKLI memastikan bahwa setiap liter air yang diproses memenuhi standar baku mutu lingkungan yang ditetapkan oleh pemerintah dan organisasi kesehatan dunia. Fokus utama dari penggunaan air sisa ini adalah menciptakan siklus penggunaan yang tertutup atau “closed-loop system”, di mana pemborosan sumber daya dapat ditekan hingga ke level minimum. Inovasi ini memberikan napas baru bagi pengelolaan lingkungan di Denpasar, di mana keterbatasan lahan bukan lagi penghalang untuk membangun sistem pengolahan limbah yang efektif dan futuristik di tengah padatnya pemukiman urban.
Keberanian gunakan standar teknologi internasional ini menempatkan Denpasar sebagai kota pertama di Indonesia yang mengadopsi sistem reklamasi air perkotaan secara terstruktur. Dukungan dari sektor pariwisata sangat besar, mengingat penghematan biaya operasional yang bisa dicapai melalui sistem penggunaan kembali air sisa ini sangatlah signifikan.
