Bali, khususnya Kota Denpasar, terus berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata yang sangat padat. Pertumbuhan populasi yang cepat ini membawa tantangan tersendiri dalam pemenuhan kebutuhan dasar, salah satunya adalah akses terhadap air bersih. Dalam upaya mewujudkan visi Denpasar sehat, kualitas air yang dikonsumsi masyarakat menjadi prioritas utama. Air merupakan elemen vital yang menentukan derajat kesehatan publik, sehingga pengawasan terhadap sumber hingga proses pengolahannya harus dilakukan dengan standar yang sangat ketat guna mencegah munculnya berbagai penyakit bawaan air (waterborne diseases).
Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) wilayah Bali secara rutin memberikan edukasi dan rekomendasi HAKLI terkait standar kelayakan air bagi warga kota. Salah satu poin penting yang ditekankan adalah pentingnya memverifikasi sumber air, baik itu berasal dari jaringan perpipaan kota maupun sumur bor mandiri. Ahli kesehatan lingkungan mengingatkan bahwa kepadatan pemukiman di Denpasar berisiko tinggi menyebabkan kontaminasi silang antara limbah domestik dengan sumber air tanah. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan untuk rutin melakukan pengujian kualitas air secara laboratoris minimal satu kali dalam setahun untuk memastikan parameter fisika, kimia, dan bakteriologi tetap dalam batas aman.
Fokus utama dari gerakan ini adalah menjamin ketersediaan air minum yang tidak hanya jernih secara kasat mata, tetapi juga sehat secara klinis. Masyarakat seringkali salah kaprah dengan menganggap air yang bening sudah pasti bisa langsung diminum. Padahal, kandungan mikroorganisme seperti E. coli atau logam berat tidak dapat dideteksi tanpa alat khusus. HAKLI menyarankan penggunaan teknologi filtrasi yang tersertifikasi atau proses perebusan hingga mendidih sempurna sebagai langkah proteksi paling sederhana di tingkat rumah tangga. Edukasi ini juga menyasar para pengelola depot air minum isi ulang agar selalu menjaga higienitas peralatan dan melakukan penggantian filter secara berkala sesuai standar operasional prosedur.
Penyediaan air yang berkualitas di Bali memiliki tantangan unik karena pengaruh intrusi air laut di beberapa titik pesisir serta kondisi geologi daerah. HAKLI mendorong pemerintah daerah dan sektor swasta untuk lebih masif dalam membangun sistem drainase dan sanitasi yang terpadu agar limbah tidak mencemari lapisan akuifer. Selain itu, kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai juga menjadi faktor penentu kualitas air baku. Air yang sehat akan melahirkan generasi yang kuat dan cerdas, yang pada akhirnya akan menjadi motor penggerak bagi kemajuan pariwisata Bali yang berkelanjutan dan berbasis kesehatan lingkungan.
